Peringatan Hari Matematika 14 Maret, Tak Terduga Terdapat Tujuan Kesetaraan Gender

Tanggal 14 Maret telah ditetapkan menjadi Hari Matematika Sedunia (International Day of Mathematics (IDM). Setiap tanggal tersebut akan selalu ada perayaan dunia yang mengundang setiap negara untuk berpartisipasi. Kegiatan perayaan tersebut diperuntukkan bagi siswa, masyarakat umum sekolah, museum, hingga perpustakaan.
14 Maret sebagai Hari Matematika Internasional diadopsi oleh Dewan Eksekutif UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB). Tahun ini, perayaan hari matematika mengusung tema baru, yakni ‘Matematika Bersatu’.

Tema baru akan selalu diberikan setia tahun untuk membumbui perayaannya. Hal itu berguna untuk memicu kreativitas, serta membawa terang untuk hubungan antara matematika dengan segala macam bidang, konsep, dan ide.

Karena matematika didefinisikan sebagai studi tentang topik-topik seperti kuantitas, struktur, ruang, dan perubahan. Meski terkesan berat, tapi sejatinya dalam kehidupan sehari-hari apakah Anda menyadari atau tidak, Anda mungkin selalu menggunakan matematika. Saat Anda harus berkendara ke suatu tempat, memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tiba di lokasi, dan banyak lagi.

Baca juga:  Penting! Simak 5 Manfaat Puasa bagi Kesehatan Selama Ramadan

Masih merujuk dari laman resmi UNESCO, tahun ini Hari Matematika Sedunia jatuh pada Senin (14/3/2022). Diperingatinya Hari Matematika Sedunia bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk lebih menyukai ilmu terapan ini.

Disebutkan oleh UNESCO, banyak peneliti dan ahli matematika yang mampu mengatasi kesulitannya dalam bidang matematika. Bahkan, peneliti menyatakan matematika merupakan ilmu yang bisa mengatasi tantangan mendesak di dunia saat ini.

14 Maret memperingati Hari Matematika Sedunia tak lepas dari perannya dalam bidang ilmu pengetahuan. UNESCO berharap mampu menguraikan peran matematika dalam mencapai ‘Tujuan Pembangunan Berkelanjutan’ hingga 2030. Hal ini diadopsi oleh komunitas global pada tahun 2015.

Tak dapat dipungkiri, kemajuan dan kemakmuran suatu negara tergantung pada kualitas matematika yang diajarkan di sistem sekolah. Manusia bertahan hidup dan meningkatkan kualitas hidup, keterampilan belajar dasar, membaca, menulis, berhitung dan cara hidup. Pendidikan matematika dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan ini.

Baca juga:  Heboh Film Horor Terlaris KKN di Desa Penari, Simak Jadwal Tayangnya di Bioskop

Selain itu, ada fokus yang tak kalah jadi sorotan. Temuan yang ibahas dalam hal kebutuhan untuk menyelesaikan konflik penting antara keyakinan yang dipegang teguh oleh siswa, orang tua, dan guru mengenai sifat matematika, perbedaan gender dalam kemampuan matematika, dan keinginan untuk kesetaraan dalam pendidikan matematika.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Hal itu dalam rangka memperkuat dua prioritas UNESCO, yakni Afrika dan Kesetaraan Gender.

Terdapat anggapan umum atau stigma bahwa matematika adalah domain anak laki-laki. Melansir dari Journal of Educational and Practice, sebuah studi melalui meta-analisis mengungkapkan bahwa laki-laki cenderung lebih baik dalam tes matematika yang melibatkan pemecahan masalah.

Baca juga:  Gary Iskak Ditangkap Usai Konsumsi Sabu di Bandung, Inilah Kronologis Kejadiannya

Sementara wanita cenderung lebih baik dalam komputasi, dan tidak ada perbedaan gender yang signifikan dalam memahami konsep matematika. Studi lain oleh Kimball (1989) menunjukkan bahwa perempuan cenderung mendapatkan nilai yang lebih baik daripada laki-laki dalam matematika. Sehingga pokok penting yang perlu diperhatikan adalah kesetaraan gender dalam menerima pendidikan.

Telah diungkapkan oleh sejumlah penelitian terbaru, bahwa garis perbedaan gender dalam pendidikan matematika di banyak negara mulai menyempit. Tapi, penelitian menunjukkan bahwa sat siswa mencapai nilai yang lebih tinggi, laki-laki cenderung tampak ada peningkatan tingkat prestasi di matematika.
Sumber: merdekacom