Heboh Prosesi Kendi Nusantara Dibilang Haram, Simak Penjelasan Menurut Pandangan Islam

Sumber: batam-pikiranrakyat

Baru-baru ini, ‘Kendi Nusantara’ mendadak menjadi perbincangan warganet Indonesia. Pasalnya, hal tersebut dibilang haram dan tak sesuai dengan ajaran agama. Lantas, apa sebenarnya Kendi Nusantara tersebut?

Beberapa waktu lalu Presiden RI, Joko Widodo, berkemah di Ibu Kota Negara (IKN) di Sepaku, Penajem Paser Utara, Kalimantan Timur pada 14-15 Maret 2022. Tak hanya Jokowi, kemah tersebut juga diikuti oleh sejumlah menteri dan kepala daerah yang merupajan simbol awal pembangunan IKN Nusantara.

Dalam acara tersebut, terdapat kegiatan bertajuk Kendi Nusantara yang dilakukan di Titik Nol IKN Nusantara. Dalam prosesi tersebut, 34 gubernur diminta untuk membawa 1 liter air dan 2 kilogram tanah dari daerah masing-masing. Selanjutnya air dan tanah tersebut kemudian disatukan dalam kendi besar yang disebut Bejana Nusantara.

Baca juga:  Heboh! Jay Park Unggah Foto Bersama Jungkook BTS, Netizen Sindir Masa Lalu

Tak lama setelah berlangsungnya acara tersebut, muncul beragam pernyataan peyoratif yang menyebut bahwa kegiatan tersebut merupakan ritual syirik, klenik, sesat, halusinasi nenek moyang, mengundang azab, dan lain sebagainya. Tulisan-tulisan ini sebenarnya ingin menyoroti kegiatan Kendi Nusantara tersebut dari sudut pandang Islam.

Dalam pandangan islam terdapat dua pertimbangan terkait boleh atau dilarangnya suatu tradisi. Pertama,jika suatu tradisi ditempatkan dalam kajian bidang mu’amalah bukan ibadah mahdlah (ritual), maka digunakan kaidah hukum asal dalam urusan muamalah adalah boleh dilakukan, selain hal-hal yang telah ditentukan haram oleh nash, sehingga tradisi itu termasuk kategori boleh dilakukan.

Adapun jika sesuatu itu bersifat ibadah maka digunakan kaidah hukum asal dalam urusan ibadah adalah tidak boleh dilakukan, kecuali ada dalil yang memperbolehkan/memerintahkan.

Baca juga:  Viral Video Seorang Ibu Menangis di Sebuah Rumah Sakit

Atas dasar itu, tradisi apapun yang ada dimasyarakat, selagi tidak ada kaitannya dengan persoalan ibadah dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat (tidak ada nash yang melarang) maka hukunya boleh dilakukan (ibahah).

Kedua, salah satu prinsip penting lain yang digunakan penetapan hukum Islam adalah kemaslahatan atau kemanfaatan riil (istishlah atau maslahah mursalah). Untuk menilai tradisi itu boleh atau tidak boleh harus dilihat, apakah ada nilai maslahat (kebaikan) nya atau tidak. Apabila tradisi itu ada manfaatnya dan tidak mengakibatkan madharat (efek negatif), maka minimal hukumnya boleh (ibahah).

Sebagaimana disampaikan Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono, prosesi penyatuan tanah dan air yang dibawa para gubernur dari daerah masing-masing dalam acara Kendi Nusantara, merupakan simbol pemersatu 34 propinsi di Indonesia hingga menjadi satu Tanah Air. Filosofi kegiatan tersebut mewakili keberagaman dan keaarifan lokal, serta budaya masing-masing daerah.

Baca juga:  Heboh Chandrika Chika Dituduh Jadi Cewek yang Bikin Putra Siregar Ditahan

Mencermati motivasi dan prosesi kegiatan Kendi Nusantara tersebut, kegiatan tersebut termasuk dalam kategori mu’amalah (bukan ibadah) sehingga dalam hukum Islam dibolehkan. Kemudian dilihat dari aspek kemanfaatannya, kegiatan tersebut tidak mengakibatkan madharat (efek negatif), maka kegiatan itu tidaklah diharamkan (ibahah), tidak termasuk kategori perbuatan musyrik dan tidak sesat.
Sumber: pelitanusantaracom