Heboh Kabar Putin Bakal Dilengserkan dari Jabatan Presiden

Sumber: edunews.id

Beredarnya kabar bahwa orang nomor satu di Rusia, Vladimir Putin akan dilengserkan dari jabatannya sebagai seorang presiden tengah heboh diperbincangkan warganet. Pasalnya, tindakannya untuk menyerang Ukraina ternyata berpotensi menyerang balik dirinya atau dapat disebut sebagai senjata makan tuan.

Vladimir Putin baru-baru ini dikabarkan akan digulingkan oleh kelompok elit Rusia yang tak puas dengan langkah yang ia ambil. Bahkan, kelompok khusus yang bertugas melengserkan Putin pun dikabarkan telah dibentuk. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Direktorat Intelijen Kementerian Pertahanan Ukraina, Minggu (20/03) waktu setempat.

“Keracunan, penyakit mendadak, kecelakaan, elit Rusia sedang mempertimbangkan untuk mencopot Putin,” katanya, dikutip Newsweek, Senin (21/03).

“Tujuan mereka adalah untuk menyingkirkan Putin dari kekuasaan sesegera mungkin dan memulihkan hubungan ekonomi dengan Barat, yang hancur karena perang di Ukraina.” lanjutnya.

Baca juga:  Dihadiri Gubernur Bali dan Ribuan Advokat, Rakernas KAI Trendirng di Twitter

Kelompok ini juga sudah menunjuk calon pengganti pria berusia 69 tahun itu. Ia adalah Direktur Layanan Keamanan Federal (FSB) Alexander Bortnikov.

Bortnikov sendiri disebut sedang tak akur dengan Putin. Ia disalahkan Putin karena “kesalahan perhitungan serangan ke Ukraina” yang dianggap terlalu lama dan mahal”.

“Bortnikov dan departemennya bertanggung jawab untuk menganalisis suasana hati penduduk Ukraina dan kapasitas tentara Ukraina,” kata Direktorat tersebut

Sementara itu, seruan membunuh Putin dari dalam diutarakan senator AS, Lindsey Graham. Ia meminta elit Rusia bergerak.

“Jika (Putin) terus menjadi pemimpin, maka dia akan membuat Anda terlibat dengan kejahatan perang,” kata Graham, berbicara kepada orang-orang Rusia.

“Jadi saya berharap seseorang di Rusia akan mengerti bahwa dia sedang menghancurkan Rusia dan Anda harus mengeluarkan orang ini dengan segala cara yang mungkin.”

Baca juga:  Heboh Nasi Padang Babi, Pemilik Usaha Buka Suara

Sebelumnya, sejumlah badan meramalkan kontraksi di ekonomi Rusia kuartal media (Q2) ini. JPMorgan meramal ekonomi negatif 35%.

“Sanksi dan keputusan bisnis asing untuk menghentikan sementara atau menghentikan operasi Rusia telah menyebabkan kemacetan dalam perdagangan internasional, pengurangan output, dan gangguan rantai pasokan,” tulis ahli strategi JPMorgan Anatoliy Shal dalam sebuah catatan untuk klien berjudul “Rusia: Berhenti tiba-tiba”, dikutip CNBC International.

“Kejutan menyiratkan potensi output yang lebih rendah, yang akan disertai dengan lonjakan harga. Krisis kredit akan menambah rasa sakit, meskipun ada tanda-tanda bahwa penurunan di bank berkurang.”

Pertumbuhan setahun juga direvisi. PDB yang sebelumnya diprediksi ekspansi 2% akan minus 7%.
Sumber: edunewsid