Contoh Esai Sastra Yang Simpel

Sumber : hot.liputan6.com

Menulis adalah salah satu aktivitas fisik yang memanfaatkan jari tangan untuk membagikan informasi yang kita miliki. Bahkan menulis hampir setiap hari kita lakukan seperti menulis di buku hingga mengetik pesan di laptop atau handphone. Namun apakah kalian pernah menulis esai? Jika belum kalian bisa melihatnya di banyak sumber yang membahas tentang esai terutama tentang  contoh esai sastra yang akan kita ulas kali ini. 

Tahukah kalian apa itu esai? Esai adalah sebuah komposisi prosa singkat yang mengekspresikan sudut pandang penulis tentang suatu subyek atau berisi tentang sastra, seni, dan budaya. Pada umumnya dalam penulisan esai dibagi menjadi tiga bagian, yaitu  pendahuluan yang berisi latar belakang informasi tentang suatu subyek, isi esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek, dan terakhir adalah penutup  yang memberikan kesimpulan dari apa yang telah disampaikan. 

Selain berisikan gagasan seseorang tentang seni dan budaya, esai pula berisikan tentang sastra. Dengan demikian, terdapat sebutan esai sastra yang membahas tentang pandangan sastrawan perihal kehidupan sastra. Esai sastra adalah salah satu jenis esai yang mencakup analisis argumentatif mengenai suatu karya sastra. Dalam esai, penulis membuat analisis mengenai novel, cerpen, puisi, atau naskah drama.

Berikut adalah contoh esai sastra, yaitu 

Sumber : kampuspedia.id

1. TEMU SASTRA JAWA BUKAN HIBURAN SESAAT

      Oleh: Sri Wintala Achmad

Sebagian pemerhati Sastra Jawa mengatakan, bahwa Sastra Jawa sudah senasib kakek jompo yang berdiri dengan topangan tongkat rapuh di tepi lubang kubur. Sementara sebagian pemerhati lainnya memberikan persepsi tanpa basa-basi, “Sastra Jawa sudah mengalami sakaratul maut. Sebentar lagi mati.

Baca juga:  Bagaimana Cara Melestarikan Sumber Daya Alam?

Persepsi buruk perihal nasib kehidupan Sastra Jawa di muka sekiranya yang dijadikan pijakan atas penyelenggaraan Temu Sastra Jawa — ‘Sastra Jawa Madhangi Jagad’ di Yogyakarta (Hotel Grand Surya), Jumat-Kamis, 4-6 Desember 2015. Salah satu event yang cukup mewah (kalau tidak mau disebut megah) dengan melibatkan sejumlah sastrawan Jawa, pemerhati Sastra Jawa, dan instansi terkait dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Kalau memperhatikan tema penyelenggaraan Temu Sastra Jawa yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Yogyakarta (DKY) tersebut, kiranya event ini bertujuan agar Sastra Jawa dapat memberi penerang dunia (madhangi jagad). Bukan hanya dunia lahir, namun juga dunia batin yang menghampar di dalam jiwa manusia. Dengan demikian, Sastra Jawa diobsesikan sebagai salah satu media di dalam membangun dunia batin (kepribadian) manusia Jawa yang mengalami abrasi akibat pengaruh budaya modern (baca: budaya Barat).

Tujuan Sastra Jawa dapat menjadi penerang dunia sungguh luhur, namun betapa susah untuk dijangkau. Karena diibaratkan, tujuan tersebut serupa hendak menjadikan Sastra Jawa sebagai jembatan bianglala untuk meraih bintang kejora paling agung yang memancar keemasan di lapisan langit terpuncak. Tujuan yang tidak lebih sebagai mimpi indah setiap tengah malam, dan tidak pernah terwujud manakala kembali terjaga pagi hari.

Baca juga:  Bagaimana Proses pernapasan Pada Manusia

Pendapat diatas perlu dikemukakan, mengingat kehidupan Sastra Jawa sudah senasib anak burung yang kehilangan induknya. Kalau tidak segera mendapatkan pertolongan, anak burung itu akan tewas. Tentu saja, menolong anak burung itu bukan sekadar memberi hiburan sesaat hingga terdiam dari cericitnya yang sangat berisik dan memelas. Melainkan mengasuh dengan penuh kasih-sayang, menyuapi dengan sabar dan tulus, serta memberikan ruang kepak yang selapang-lapangnya. Bukan justru memenjarakannya, ketika anak burung itu tumbuh dewasa di dalam sangkar gading yang sempit.

Membebaskan Sastra Jawa dari nasib buruknya serupa memberikan pertolongan pada anak burung yang kehilangan induknya. Artinya, beberapa lembaga baik swasta maupun pemerintah yang menghendaki tetap berlangsungnya kehidupan Sastra Jawa hingga mengalami pertumbuhkembangan seyogyanya bukan sekadar mengadakan event pertemuan, dan terlebih pelatihan (workshop) penulisan, atau lomba cipta (baca) karya Sastra Jawa yang hanya bersifat hiburan sesaat. Tetapi upaya tersebut harus disertai dengan langkah pendampingan supaya para sastrawan Jawa tetap setia menggubah karya-karya (geguritan, cerkak, cerbung, atau novel) yang memenuhi standar kualitatif.  

Langkah pendampingan terhadap sastrawan Jawa bukan sekadar berhenti sampai di situ. Langkah pendampingan selanjutnya, dimana lembaga swasta atau pemerintah harus memberikan santunan dana kepada setiap sastrawan potensial untuk menerbitkan karya-karyanya. Bukan sekadar mendorong para sastrawan supaya tetap setia mempublikasikan karya-karya di beberapa Kalawarti Basa Jawa yang kuantitasnya mulai bisa dihitung dengan jari satu tangan.

Baca juga:  Inilah 7 Organisasi Luar Kampus yang Menarik, Mana Pilihan Kamu?

Langkah pendampingan terhadap para sastrawan Jawa yang dilakukan oleh lembaga swasta atau pemerintah harus dibarengi dengan pembinaan dalam bidang penulisan serta peningkatan minat baca terhadap karya Sastra Jawa di lingkup sekolah. Mengapa demikian? Karena buku-buku yang memuat karya Sastra Jawa yang diterbitkan oleh lembaga swasta atau pemerintah (bisa bekerja sama dengan penerbit profesional) seyogyanya didistribusikan ke sekolah-sekolah sebagai penunjang pelajaran Bahasa dan Sastra Jawa bagi seluruh anak didik. Bila upaya ini terealisasikan, maka Sastra Jawa yang ditujukan sebagai penerang dunia atau membangun kepribadian manusia sejak usia dini tersebut akan terwujud.

Apabila karya Sastra Jawa sudah diminati oleh generasi penerus yang dimulai dari lingkup sekolah, maka akan terbentuklah masyarakat pembaca setia. Karenanya tidak pelak lagi, kehidupan Sastra Jawa akan mengalami suatu pertumbuhkembangan yang signifikan di masa mendatang. Banyak sastrawan berbakat akan dilahirkan. Kalawarti Basa Jawa yang memuat karya-karya Sastra Jawa akan mengalami suatu peningkatan jumlah dan oplah, karena meningkatnya kuantitas pembaca (pelanggan). Tidak hanya di lingkup sekolah, namun pula di ruang-ruang publik yang lebih luas. 

Sumber : 

https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5aab319ddcad5b24902b0ce2/kiat-cerdas-menulis-esai-sastra-dan-memublikasikanya?page=1&page_images=1