Baru Rilis di Netflix! Review Film Chainsaw Massacre: Kisah Pembunuhan Sadis yang Legendaris Kembali Lagi

Netflix baru saja merilis film Chainsaw Massacre. Gentrifikasi dan “woke” adalah dua konsep yang tidak pernah saya bayangkan menjadi katalis dalam sebuah film slasher seperti yang terjadi fim tersebut.

Sekuel (entah yang ke-berapa) dari David Blue Garcia ini mengajak penonton untuk kembali ke Texas dan bertemu lagi dengan si legendaris Leatherface tapi kali ini dengan semua hal yang berbau kekinian, termasuk sosial media.

Tokoh utama dalam Texas Chainsaw Massacre versi yang baru adalah Melody (Sarah Yarkin) bersama saudarinya, Lila (Elsie Fisher, yang debut dalam Eighth Grade yang dipuja-puja). Dua kakak beradik ini datang ke Texas bersama teman-temannya. Tujuannya? Tentu saja bukan staycation. Muda-mudi ini sudah paham melihat peluang bisnis dan berencana untuk menjadikan sebuah kota yang kosong untuk menjadi tempat baru yang hip dan kekinian.

Tentu saja mereka tidak pernah mengenal Leatherface atau apa yang terjadi dengan kejadian lima puluh tahun lalu. Tapi mereka segera akan bertemu dengannya terutama ketika Dante (Jacob Latimore) melihat masih ada rumah yang memasang bendera konfederasi. Dante bersama teman-temannya masuk ke dalam rumah tersebut dan meminta pemilik rumah, Ginny (Alice Krige), untuk menurunkan bendera tersebut. Konfrontasi ini menyebabkan Ginny harus dilarikan ke rumah sakit yang akhirnya menewaskan Ginny.

Baca juga:  Paket SNBT Master Ruangguru, Bootcamp Intensif Persiapan Masuk PTN Impian!

Kematian Ginny tentu saja berpengaruh pada “anak asuh”-nya yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah Leatherface. Marah dan sakit hati, dia mulai menghabisi semua yang ada di ambulans. Tidak butuh waktu lama bagi Leatherface untuk kembali ke rumah, mengambil lagi gergaji mesinnya dan bersiap untuk memotong-motong orang lagi.

Dirilis oleh sutradara Tobe Hooper pada tahun 1974, The Texas Chainsaw Massacre adalah sebuah film horor yang menyeramkan yang kengeriannya tak termakan waktu. Bahkan ketika ditonton jaman sekarang, teror yang ada di film itu tetap terjaga dengan rapi. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keseraman film tersebut. Selain villain yang sangat berkesan, film tersebut juga berhasil menampilkan paduan antara ngeri dan suspense yang dijaga dengan baik.

Leatherface memang menyeramkan dengan kediamannya dan senjatanya yang antik. Fakta bahwa dia tidak pernah bereaksi ketika membunuhi manusia-manusia ini memang membuatnya seram. Tapi Leatherface tidak akan sengeri itu tanpa “bantuan” keluarganya. Semua anggota keluarga Leatherface di rumah itu tidak hanya mengerikan tapi juga membuat jijik.

Baca juga:  Simak 4 Skincare untuk Hempas Jerawat Ini Viral di TikTok

Salah satu faktor yang membuat remake (atau sekuel) Texas Chainsaw Massacre adalah hampir semua pembuat film-film tersebut selalu lebih fokus kepada gore atau “seberapa sadis Leatherface membunuh para korbannya”. Tidak ada yang mau repot-repot untuk membuat ketegangan yang lebih mengikat seperti adegan makan malam di film aslinya. Semuanya memilih untuk mencari kejutan yang singkat dan gampang dibuat.

Hal tersebut, seperti bisa ditebak, juga ditemukan di Texas Chainsaw Massacre. Film ini tidak pernah tertarik untuk membuat penonton peduli dengan nasib karakter-karakter utamanya. Mereka semua hanyalah manekin-manekin kosong yang tugasnya hanya akan menjadi korban Leatherface. Karakter Lila memang diberi sedikit backstory bahwa ia merupakan penyintas dari pembunuhan masal di sekolahnya (school shooting) tapi hal tersebut tidak berdampak banyak baik terhadap plot atau karakternya.

Sejujurnya penulis skrip Chris Thomas Devlin (dari cerita Fede Alvarez dan Rodo Sayagues yang memberikan kita Don’t Breathe dan sekuelnya) mencoba untuk membuat kisah ini lebih dramatis dengan menghadirkan Sally Hardesty (Olwen Fourere), satu-satunya korban selamat dari Leatherface dari film originalnya. Tapi berbeda dengan Halloween karya David Gordon Green yang dirilis pada tahun 2018 yang menggunakan Laurie Strode dengan sangat efektif, kehadiran Sally Hardesty ini tidak memberikan efek apa-apa. Dia muncul dan pergi begitu saja tanpa memberikan kesan yang mendalam.

Baca juga:  Sinopsis Pengabdi Setan 2, Benarkah Lebih Seram dari Film Pertama?

Bagian terbaik dari Texas Chainsaw Massacre versi Netflix ini adalah durasinya yang sangat bersahabat (di bawah 90 menit atau sama seperti satu episode drama korea). Film ini sama sekali tidak membosankan karena sang sutradara memberikan begitu banyak adegan seru. Begitu Leatherface muncul dan menyalakan lagi gergaji mesinnya, film ini menjadi tontonan yang asyik bagi Anda yang suka melihat karakter-karakter bodoh menemui ajal.

Texas Chainsaw Massacre memang bukan horor yang baik. Ia juga terasa seperti “menghianati” warisan Tobe Hooper. Tapi sebagai tontonan santai di hari Senin, Texas Chainsaw Massacre mungkin bisa menjadi penyemangat kerja. Tidak ada yang lebih seru daripada menyaksikan Leatherface membantai semua Gen-Z yang ketika bertemu dengan orang aneh yang membawa gergaji mesin malah memutuskan untuk Instagram live. Untuk itu saya berterima kasih kepada Leatherface.

Texas Chainsaw Massacre dapat disaksikan di Netflix.

 

Sumber:

https://hot.detik.com/premiere/d-5951753/review-texas-chainsaw-massacre-si-pembunuh-sadis-legendaris-kembali-lagi